Pegiat Literasi Syarifudin Yunus, M.Pd: Lawan Virus Covid-19 Bukan Dengan Kata-Kata TAPI Tindakan “Lingkungan Bersih Hidup Sehat”

Virus corona mewabah itu realitas. Tapi cara menyikapinya, sama sekali tidak butuh kata-kata. Virus corona pun tidak bakal “kabur” bila dihadapi dengan ketakutan dan kepanikan. Sungguh, virus corona akan “mati sendiri” manakala manusia bersikap untuk hidup bersih, punya imunitas yang baik, dan selalu menjaga kesehatan.

Maka virus corona tidak butuh kata-kata. Apalagi kata-kata dan narasi yang menakutkan atau melemahkan. Patut diingat, di Indonesia ini punya banyak orang pintar. Infrastruktur cukup, tenaga medis professional pun memadai. Dana pun sudah disiapkan. Maka hari ini, yang dibutuhkan adalah spirit atau semangat untuk “melawan virus corona”. Semangat berjuang, motivasi bekerja untuk menghalau virus corona.

Dan sebaliknya, virus corona tidak perlu dihadapi dengan menebar berita buruk. Apalagi spekulasi yang tidak perlu. Bila semua kecamatan di DKI Jakarta terpapar virus corona, terus apa yang diharapkan? Deteksi dan cari orangnya yang terpapar virus corona. Sembuhkan mereka. Siapa pula yang berharap DKI Jakarta atau Indonesia lockdown? Jika mau jujur, justru hanya pikiran negatif itulah yang makin melemahkan, makin menakutkan anak bangsanya sendiri.

Virus corona itu penyakit, maka harus dicari obatnya lalu disembuhkan. Bukan malah menebar berita-berita buruk yang tidak perlu. Untuk apa memforward berita yang “tidak menyembuhkan”.Virus corona bukan politik, bukan pula ajang mencitrakan diri sambil menebar ketakutan. Maka tebarkan energi positif. Agar Indonesia mampu melewati masa-masa sulit seperti sekarang.

Kemarin Jumat, semua masjid di Indonesia masih selenggarakan sholat Jumat. Terus, apa ada yang berpikir untuk memberhentikan sholat Jumat akibat virus corona? Harusnya, siapapun yang takut atau tidak layak berada di keramaian, maka tidak perlu datang ke masjid. Kesadaran diri inilah yang harus dibangun. Sadar bila sakit jangan ke tempat ramai. Bukan malah menebar ketakutan.

Saya yakin seyakin-yakinnya. Virus corona bukanlah sebab kematian. Karena kematian bisa terjadi setiap saat, setiap waktu dan di mana saja. Apapun penyakitnya, itu hanya cara untuk mati. Jadi, virus corona bukan kata-kata. Tapi kesadaran dan tindakan untuk tetap waspada. Menjauhi ego dan sikap reaktif yang tidak perlu. Ikhtiar yang baik, doa yang baik. Laslu, tetaplah perbaiki kualitas iman dan takwa serta rasa takut kepada Allah SWT. Itu semua sudah cukup.

Memang benar. Ada yang terpapar virus corona. Tapi ada pula yang sembuh. Maka kita hanya butuh kewaspadaan, bukan ketakutan. Jaga kesehatan, bukan panik berlebihan.

Ketahuilah, hidup itu tidak lepas dari cobaan dan ujian. Manusia, siapapun orangnya, pasti akan diuji dalam kehidupannya. Baik dengan perkara yang tidak disukainya atau perkara yang menyenangkannya. Tafsir Ibnu Jarir menyatakan “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan”. Itulah kemungkinan yang pasti terjadi dalam hidup manusia. Agar manusia tetap eling dalam hidupnya.

Bangsa ini, sudah terbiasa menghadapi penyakit akibat virus. Sebut saja: aids, sapi gila, flu burung, flu babi, ebola, sars, dan kini corona. Bahkan di sini, ada pula virus yang sulit dilupakan, lebih menjengkelkan dan bisa pula mematikan. Yaitu virus “SULB”, Suka Utang Lupa Bayar.

Virus corona, tidak butuh kata-kata yang menakutkan. Maka siapapun, boleh punya pikiran kotor. Tapi pastikan lingkungan tetap bersih dan kesehatan tetap terjaga. Itulah cara simpel hadapi virus corona #LawanCOVID19

Penulis: Syarifudin Yunus, M.Pd (Dosen Universitas Indraprasta PGRI dan Pegiat Literasi Indonesia)

 2,031 total views,  4 views today

Top